Perubahan teknologi dimasa kini semakin canggih, termasuk tentang antariksa. Indonesia tak mau kalah. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengumumkan rencana untuk memiliki bandar antariksa yang menjadi bagian rencana induk keantariksaan. Hal itu diungkapkan dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional LAPAN beberapa hari lalu semenjak berita ini diturunkan.

Menurut laporan di situs resmi LAPAN, sejauh ini sudah ada kajian terhadap beberapa alternatif lokasi, yakni Pulau Enggano, Pulau Nias, Pulau Morotai, dan Pulau Biak. Hasilnya, lokasi yang memenuhi persyaratan teknis sebagai lokasi pembangunan bandar antariksa adalah Pulau Biak, Desa Soukobye, Kabupaten Biak Numfor, Papua. Terletak dekat dengan ekuator atau garis khatulistiwa menjadi keunggulan pulau ini.

Menurut titik koordinat, Pulau Biak berada di 0º55'-1º27' Lintang Selatan (LS) dan 134º47'-136º48' Bujur Timur (BT). Posisi itu membuatnya ideal menjadi tempat peluncuran Roket Peluncur Satelit ke Geostationary Earth Orbit (GEO).

Dampak positif dari lokasi ini ialah penghematan penggunaan bahan bakar roket saat peluncuran. Thomas berharap pembangunan bandar antariksa ini dapat selesai pada 2024 dan dipakai untuk uji coba terbang peluncuran roket skala kecil.

Menurut Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin, pembangunan bandar antariksa merupakan amanat Undang-Undang No 21 tahun 2013 tentang keantariksaan dan Peraturan Presiden No.45 tahun 2017 tentang Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan 2016-2040.

Dalam Rakornas itu, LAPAN berharap ada masukan untuk mewujudkan mimpi besar pembangunan bandar antariksa ini. Masukan ini berguna sebagai input bagi harapan Indonesia memiliki satelit sendiri. Bukan hanya itu, melainkan juga keinginan Indonesia mampu meluncurkan wahana roket sendiri dapat terwujud setidaknya pada 2040 atau menjelang 100 tahun peringatan kemerdekaan Indonesia.

Terlepas dari rencana itu, pada Februari 2018, Direktur Laboratory for Atmospheric and Space Physics di University of Colorado (Amerika Serikat), Daniel Baker, mengklaim ada tanda-tanda pembalikan kutub-kutub magnet Bumi. Dia mengatakan, jika pertukaran terjadi, kemungkinan beberapa area di planet ini 'tidak bisa dihuni' dan akan memutuskan seluruh jaringan listrik hingga pelosok negeri, Minggu (10/11).

Komentar Baker waktu itu juga dimuat dalam Undark yang menuliskan laporan mendalam, ditulis oleh Alanna Mitchell, penulis buku "The Spinning Magnet: The Electromagnetic Force that Created the Modern World and Could Destroy It" (Magnet Berputar: Kekuatan Elektromagnetik yang Menciptakan Dunia Modern dan Dapat Menghancurkannya).

Mitchell menulis: "Bahaya, aliran partikel penghancur dari matahari, sinar kosmik galaksi, dan sinar ultraviolet B dari lapisan ozon yang rusak karena radiasi, menghasilkan kekuatan tak terlihat yang dapat membahayakan atau membunuh makhluk hidup."

Namun, dunia tidak akan kiamat karena peristiwa ini, menurut Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin, Ia menjelaskan, kutub Bumi dan rotasi Bumi tidak akan berbalik, meski ada kemungkinan kutub magnetik Bumi berubah.

Sebuah kewajaran alam bila terjadi fenomena pembalikan kutub magnetik Bumi. Sayangnya, kabar seperti ini kerap disalahartikan oleh orang dan banyak pembuat hoax menyebarkan berita-berita tak menyenangkan, seperti matahari muncul dari barat dan Bumi berputar berlawanan arah dari biasanya.

Menurut Thomas, posisi sumbu poros Bumi (kutub utara dan selatan) tidak dipengaruhi perubahan kutub medan magnet Bumi. Kalaupun terjadi, perubahan ini bisa dideteksi kompas lantaran kutub medan magnet inilah yang menjadi arah rujukan kompas. Proses ini pun terjadinya bisa sampai ribuan tahun. Bahkan Thomas menyatakan bahwa pada ribuan tahun lalu perubahan kutub magnetik pernah terjadi dan tidak mengubah posisi kutub utara dan selatan Bumi.